Senin, 02 November 2015

Kisah Kita Rumah Kita







Hampir setahun saya sudah bergabung di salah satu organisasi mahasiswa terbesar di IPB yaitu BEM KM. Di sinilah saya menikmati masa-masa terakhir saya sebagai mahasiswa. Awalnya saya ragu untuk masuk kembali di dalam organisasi ini, karena sejujurnya saya pun ingin cepat lulus. Tapi saya mulai berpikir, jika saya lulus sedangkan bekal yang saya punya masih kurang untuk melamar suatu pekerjaan, pastinya tidak akan lolos karena ketika saya mengikuti sebuah pelatihan softskill dimana pembicaranya merupakan salah satu menejer di perusahaan ternama berkata “Nilai bukanlah satu-satunya syarat untuk lolos di perusahaan, tapi skill dan keikutsertaan organisasi di kampus itu menjadi hal yang penting untuk dipertimbangkan, karena pelamar yang semasa mahasiswanya mengikuti banyak organisasi di kampus sudah terasah jiwa kepemimpinannya.” Saya pun akhirnya memutuskan untuk mengikuti open recruitment BEM KM IPB untuk mendapatkan bekal itu dan alhamdulillah saya diterima di Biro Communication and Information Agency (CIA) sebagai sekretaris. 

Awal perjalanan di BEM KM IPB pun sangatlah menarik karena saya bisa bertemu dengan teman-teman yang memiliki banyak perbedaan karakter dengan saya. Apalagi ketika saya dipertemukan oleh keluarga kecil bernama CIA, di situlah saya mendapatkan tantangan. Tantangan untuk menyatukan mereka dalam sebuah visi dan misi. Jujur, mereka memiliki karakter yang sangat unik. Ada yang manja, moody, baper, pemalu, aktivis di mana-mana, tegas, dan lain-lain. Tapi di situlah saya harus bisa lebih cepat untuk beradaptasi dengan mereka. Menjadi angkatan yang paling tua di CIA membuat saya harus menjadi sosok yang dewasa, kuat, dan tegar karena saya ingin memberikan kesan positif untuk mereka, yaa meski terkadang jiwa pemarah saya muncul ketika mereka tidak fokus rapat ataupun sedang melaksanakan program kerja. Tapi sesungguhnya saya melakukan itu karena ingin mendidik mereka untuk lebih kuat sebelum mereka terjun di dunia pekerjaan.

Pertengahan kepengurusan BEM KM IPB mengalami suatu masalah yang cukup dibilang menggemparkan bagi IPB. Tidak perlu saya ceritakan di sini karena kalian pasti sudah tau apa permasalahan itu. Jujur lagi, saya sedikit kecewa terhadap pilihan dia yang mudur dari BEM KM IPB. Tapi dengan mundurnya dia, saya mulai paham dan mengerti tentang arti sebuah tanggung jawab. Ada tidaknya dia, saya harus tetap berkontribusi untuk BEM KM IPB karena itu merupakan amanah dan tanggung jawab saya yang wajib diselesaikan sampai akhir. 

Waktu pun mulai berjalan dengan cepat hingga mendekati akhir kepengurusan. Banyak kisah-kisah menarik yang sudah saya jalani di sini. Pengalaman berhargapun saya dapatkan, mulai dari mengikuti aksi, negosiasi dengan sponsor, bertemu dengan pejabat rektorat, dan yang paling penting saya bisa bertemu dengan teman-teman pimpinan di BEM KM IPB yang sangatlah menginspirasi. Saya belajar banyak dengan mereka semua. Banyak poin-poin leadership dari mereka yang saya ambil. Tanpa mereka, mungkin saya belum bisa menjadi sosok yang seperti ini. 

Rumah Kita telah seluruhnya menjadi bagian hidup saya di masa-masa terakhir menjadi mahasiswa. Rumah yang benar-benar menjadi tempat tinggal kedua. Rumah yang memberikan banyak rasa dari mulai senang hingga sedih, jatuh lalu bangkit, dan apapun itu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata. Akan ada masa-masa di mana saya akan merindukan dengan rutinitas di rumah kita mulai dari makan bersama, rapat, kumpul keluarga, bikin proposal dan SPJ bareng, hingga hal yang paling konyol adalah saat-saat berebut kipas angin. 

Sepenggal kisah-kisah Rumah Kita sudah saya curahkan disini. Sebenarnya masih banyak lagi kisah-kisah lainnya yang belum tersampaikan. Kisah ini akan menjadi kisah kita yang tidak akan saya lupakan. Kisah kita ini memberikan banyak pelajaran bagi saya untuk menjadikan saya lebih dewasa lagi. Terima kasih CIA dan BEM KM IPB untuk kisah kita yang penuh warna.
Share: