Sabtu, 17 Maret 2012

"Bukan Saya yang Memilih MSL tapi MSL yang Memilih Saya"


Kali ini Saya mau cerita tentang kenapa Saya bisa ada di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Waktu itu guru BK Saya mengumumkan siapa-siapa saja yang bisa mengikuti  SNMPTN jalur undangan. SNMPTN jalur undangan hanya bisa diikuti oleh siswa-siswa yang memperoleh peringkat 20 besar di kelasnya. Kebetulan Saya dapat peringkat tiga di kelas (heheeee sombong dikit ;)). Saya bingung harus milih perguruan tinggi mana dan masuk jurusan apa. Akhirnya Saya konsultasi ke kakak Saya yang dulunya lulusan dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Tanpa pikir panjang kakak Saya menyuruh untuk memilih IPB. Saya  sebenarnya gak mau masuk sana karena jauh dari orang tua (maklum anak manja), tapi orang tua juga menyetujui untuk masuk IPB. Yaaahh apa boleh buat Saya menuruti keinginan mereka. Akhirnya Saya browsing internet tentang jurusan-jurusan apa saja yang ada di IPB. Setelah mengetahui jurusan-jurusannya, akhirnya terpilihlah tiga jurusan yang mau Saya daftar. Pertama Saya memilih jurusan Agribisnis Fakultas Ekonomi Manajemen karena Saya suka berbisnis dan menghasilkan banyak uang, kedua Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian karena Saya ingin menciptakan tanaman yang beda dari lainnya, dan ketiga Saya memilih Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia karena Saya senang ngomong , Saya mempunyai cita-cita ingin menjadi announcer, dan duulu Saya juga pernah menjadi salah satu finalis penyiar radio di salah satu radio di Jember, tetapi itu semua ditolak mentah-mentah sama kakak n orang tua. Saya gak boleh milih jurusan tersebut. Mama Saya bilang “Buat apa jauh-jauh kuliah di IPB tapi gak ngambil jurusan pertanian”. Kakak Saya bilang “Kalau mau kuliah di IPB, lebih baik ngambil jurusan yang pertaniannya kuat”. Serba salah deehh Saya. Milih ini salah, milih itu salah, sebenarnya yang mau kuliah siapa sihh??. Akhirnya Saya memilih jurusan yang berada di Fakultas Pertanian semua yaitu Agronomi dan Hortikultura, Manajemen Sumberdaya Lahan,  dan Proteksi Tanaman. Tidak Cuma IPB yang Saya pilih, tapi Saya juga memilih Universitas Jember sebagai pilihan kedua.Entah kenapa Saya lebih optimis untuk diterima di Universitas Jember. Saya udah berpikiran kalau Saya  gak bakal diterima di IPB karena nilai rapor Saya ada nilai enamnya pada waktu semester 1 kelas satu.

Pengumuman penerimaan mahasiswa baru jalur undangan sudah bisa diketahui lewat internet. Saya deg-degan banget. Saya berharap diterima di Universitas Jember karena gak mau jauh dari orang tua. Saya memilih IPB karena keinginan kakak dan orang tua. Pukul 19.00 Saya dan kakak pergi ke warung internet. Jujur Saya gak sanggup melihat hasilnya. Saya menyuruh kakak untuk memaksukkan pin. Beberapa detik kemudian, Saya melihat kalimat “Selamat Marita Fitri Az Zahra diterima di Institut Pertanian Bogor departemen Manajemen Suberdaya Lahan”. Betapa kagetnya Saya dan kakak melihat kalimat di layar monitor komputer itu. Saya bingung harus senang atau sedih, yang pasti  Saya senang udah diterima lewat jalur undangan dan itu tandanya Saya gak usah capek-capek lagi untuk belajar buat mengikuti SNMPN tulis. Sedihnya Saya harus jauh dari orang tua, temen-temen, dan sahabat-sahabat Saya. Saya gak bisa bayangin kalau merantau jauh dari Jember dan tinggal sendirian di Bogor. Saya juga gak tahu apa itu Manajemen Sumberdaya Lahan dan apa yang harus Saya pelajari disana. Mau gak mau Saya harus menerimanya.

Saya akhirnya pulang dengan muka datar. Saya udah disambut orang tua di ruang tamu. Orang tuaku benar-benar penasaran anaknya bakal kuiah dimana. Mamaku langsung bertanya “Keterima dimana nduk??” Saya jawab dengan singkat “IPB Manajemen Suberdaya Lahan.” Mamaku langsung histeris. “Yaa ampun nduk, gak nyangka kamu diterima di IPB. Alhamdulillah.” Saya langsung masuk kamar dan mengunci pintu kamar. Saya menangis. Saya takut harus jauh dari orang tua. Siapa lagi yang bakal jagain orang tua kalau bukan Saya. Kakak-kakak Saya semua bekerja di luar kota, tapi ini semua memang kemaauan orang tua. Mereka menginginkan Saya bisa kuliah di perguruan favorit seperti IPB. Saya menenangkan diri. Saya harus bisa. Saya harus berani, Saya gak mau ngecewain mereka. Saya harus jadi orang sukses.

Tibalah Saya di IPB. Awal-awal sihh Saya masih sedih, rindu rumah, rindu orang tua ttapi Saya harus betah disana karena selama empat tahun Saya bakal menuntut ilmu disana. Saya akhirnya bisa beradaptasi dengan baik. Bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah. Mempunyai kakak OMDA yang kocak dan lama-lama Saya merasa nyaman tinggal disana, tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati tentang jurusan yang Saya pilih yaitu Manajemen Sumberdaya Lahan (MSL). Sumpah Saya gak tau tuh jurusan apa, yang Saya tahu itu jurusan mempelajari tentang ilmu tanah. Untungsaja kakak-kakak tingkat dari MSL mengadakan gathering buat anak angkatan 48. Di acara tersebut kami dijelaskan apa itu MSL, kegiatan-kegiatan MSL, mata kuliah di MSL,dan semua tentang MSL yang membuat Saya semakin senang memilih jurusan MSL. Saya masih ingat ucapan dari kakak tingkat yang mengatakan “Saya juga awalnya sama seperti kalian, Saya gak tahu apa itu MSL, ada rasa menyesal karena Saya memilih MSL, tapi Saya yakin dengan MSL Saya bakal jadi orang sukses, karena bukan Saya yang memilih MSL, tapi MSL yng memilih Saya.” Kata-kata itu menyentuh banget dan bikin Saya semangat untuk belajar di Departemen MSL. Jangan menyerah apa yang telah kita pilih, siapa tahu pilihan kita adalah pilihan yang tepat dan terbaik untuk kita.


Share:

Mencintai Pangan Lewat IFOODEX

Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan (HIMITEPA) Fakultas Teknologi Pertanian menyelenggarakan acara IFOODEX pada tanggal 16-19 Februari 2012 di koridor pinus Institut Pertanian Bogor. IFOODEX merupakan acara dua tahunan yang dilakukakan oleh HIMITEPA. Acara ini meliputi pelatihan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) tingkat kampus yang membahas tentang cara meningkatkan daya saing UKM. Selain itu ada Food Expo, lomba mewarnai tingkat TK dan SD, talk show yang diikuti oleh ibu-ibu PKK tentang edukasi pangan, serta seminar yang bertemakan “Cintai Pangan Lokal” yang mengangkat isu pangan lokal di negeri ini. Seminar ini diikuti oleh mahasiswa umum.

Menurut Mohammad Sobichaman selaku ketua panitia IFOODEX, acara ini mengalami perubahan dari sebelumnya. Acara ini lebih condong bergerak ke UKM yaitu dengan mengadakan pelatihan UKM. Selain itu menghadirkan talk show tentang pangan, serta lomba mewarnai tingkat TK dan SD. Acara yang dipersiapkan dari bulan Mei 2011 ini mengalami beberapa kendala yaitu kekurangan sumberdaya, panitia mengalami bentrok dengan jadwal kuliah, dan menggaet  sponsor. “Kami kesusahan mencari sponsor karena banyaknya proposal yang diterima oleh perusahaan tersebut sehingga kami digantungkan oleh beberapa sponsor.” Ujar Mohammad Sobichaman.

Meskipun dengan 55 panitia dari angkatan 46 dan 47 Departemen Ilmu Teknologi Pangan tidak menyulutkan semangat untuk memberikan acara yang terbaik bagi peserta yang ikut berpartisipasi dalam IFOODEX kali ini. Harapan dari semua HIMITEPA semoga acara IFOODEX kali ini dapat bermanfaat, banyak ilmu yang didapatkan, IFOODEX berlangsung meriah, dan semua kalangan dari anak-anak, orang tua, dan mahasiswa dapat mencintai pangan lokal.

-Marita FA-

Share:

Modivikasi Sepeda Siomay Menjadi Mesin Penggiling Padi



Institut Pertanian Bogor (IPB) patut berbangga karena Niko Daniar Atmaja salah satu  mahasiswa dari jurusan teknik mesin dan biosistem (TMB) berhasil membuat mesin penggiling padi dengan bantuan sepeda. Mesin ini diberi nama O-Belt Thresher. Mahasiswa angkatan 43 ini, mendapat inspirasi membuat mesin tersebut saat dia melihat pedagang siomay dengan mengendarai sepeda.  Dia ingin memodivikasi sepeda tersebut agar para petani dapat menerapkan nilai seni.

Awal mula pembuatan alat ini ketika dia mengikuti mata kuliah rancangan teknik mesin di Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA), lalu dia mengikuti suatu event. Akhirnya dia lolos dalam event tersebut dan berhak mengikuti RAMP (Recognition and Mentoring Indonesia). Dia mendapat dana sekitar 50 juta dollar untuk penerapan inovasi yang dia buat.

Menurut Rusnadi selaku Ketua Himateta, alat ini memiliki banyak kelebihan di antaranya, alat ini memiliki design yang sederhana, bisa dibawa kemana-mana, lebih efisien dalam operasional karena tenaga yang dibutuhkan adalah dari kita sendiri, bisa masuk lahan, dan gampang di aplikasikan.

Kendala yang dialami adalah ketika alat yang diciptakan harus sesuai dengan keadaan lapangannya, sehingga dia membuat tim penggerak dengan menggunakan sepeda agar mobilisasi mudah terjangkau ke berbagai lahan. Alat ini sudah dipatenkan dan menjadi salah satu dari 103 inovasi di Indonesia.

“Harapannya dengan alat ini dapat merubah culture orang-orang yang beranggapan bahwa mekanisasi dalam teknologi produksi dapat menambah pengangguran, justru dengan adanya mekanisasi dapat lebih efisien.” Ujar Rusnadi kembali.


-Marita FA-


Share:

12 Mahasiswa TPB Mengundurkan Diri


Tahap Persiapan Bersama (TPB) merupakan tahap bagi mahasiswa baru sebelum memasuki departemen mereka.  Di TPB mahasiswa baru mendapatkan mata kuliah yang sama seperti pelajaran di sekolah. Guna dari TPB ini untuk mengantarkan mahasiswa baru menuju masing-masing mayor mereka. Pada masa TPB ini, mahasiswa baru diharapkan bersungguh-sungguh dalam belajar agar memperoleh IP yang memuaskan, karena apabila memperoleh IP ≤ 1,50 maka mahasiswa tersebut harus dikeluarkan sesuai dengan Panduan Program Pendidikan Sarjana.

Pada semester ganjil, sudah banyak mahasiswa TPB yang dikeluarkan maupun mengundurkan diri dari Institut Pertanian Bogor (IPB). “Kalau secara administratif ada karena nilai IPK nya yang kurang dan dalam perjanjian. Perjanjian itu ada dua yaitu perjanjian karena mata kuliah dan perjanjian karena IPK,” ungkap Bapak Eko selaku sekretariat TPB.

Menurutnya, ada 12 mahasiswa TPB yang sudah resmi melapor untuk mengundurkan diri dari IPB. Hal ini disebabkan karena mahasiswa tersebut mendapatkan pekerjaan dan pindah ke perguruan tinggi lainnya kerena mungkin sudah tidak cocok lagi di IPB.

Bapak Eko juga menghimbau kepada mahasiswa baru untuk mengenali IPB terlebih dulu, bersosialisasi dengan teman-teman dan kakak kelasnya, dan tetap bergaul meskipun nilai yang diperolehnya jatuh. Himbauan ini disampaikan agar ke depannya mahasiswa TPB tidak lagi mengundurkan diri dari IPB.


-Marita FA-

Share: